News

Indonesia Menghadapi Krisis Planetary Tiga, Menurut Menteri Hanif Faisol

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, baru-baru ini menyoroti tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Dalam acara Aksi Bersih Sungai dan penanaman pohon yang berlangsung di aliran Sungai Cikeas, Sentul, Kabupaten Bogor, dia mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi apa yang disebutnya sebagai triple planetary crisis—krisis iklim, pencemaran, dan sampah. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.

Krisis Lingkungan yang Makin Nyata

Hanif menjelaskan bahwa situasi ini bukan hanya sekadar isu global, melainkan tantangan nyata yang kita hadapi setiap hari. Merujuk pada data dari UNFCCC, dia mengungkapkan bahwa suhu global pada tahun 2024 diprediksi menjadi yang tertinggi dalam sejarah, dengan kenaikan mencapai 1,4 derajat Celsius dibandingkan dengan masa pra-industri. Kenaikan suhu ini, menurutnya, memiliki dampak yang signifikan bagi negara tropis seperti Indonesia, yang saat ini mulai merasakan curah hujan ekstrem, banjir, dan kenaikan permukaan air laut sebagai pola baru.

Sungai di Indonesia: Masalah Pencemaran yang Serius

Dalam rangkaian pernyataannya, Hanif juga menyoroti kondisi sungai-sungai di Indonesia yang masih terjebak dalam masalah pencemaran. “Hampir tidak ada satu pun sungai kita yang benar-benar bersih dari sampah, baik plastik maupun limbah lainnya. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang mencemari laut berasal dari daratan dan sungai, sehingga penanganan masalah ini harus dimulai dari hulu.

Hanif menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. “Sampah laut dimulai dari sampah sungai. Dari daratan yang jatuh ke sungai lalu ke laut dan memperparah krisis iklim. Karena itu, kita harus bergerak dari hulu,” jelasnya.

Kolaborasi untuk Mengatasi Krisis

Pemerintah, menurut Hanif, sedang berupaya untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Ini termasuk inisiatif seperti National Plastic Action Plan dan sinergi dengan berbagai pihak internasional. Melalui kerja sama ini, diharapkan bisa ada langkah nyata untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

Dalam konteks yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Hazuarli Halim, menambahkan bahwa krisis lingkungan ini juga merupakan tanggung jawab moral dan keagamaan. “Kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia sangat nyata. Oleh karena itu, kita wajib menjaga keseimbangan lingkungan yang telah Allah ciptakan,” ujarnya.

Tanggung Jawab Moral dalam Menjaga Lingkungan

Hazuarli menekankan bahwa membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, danau, dan laut, telah difatwakan haram oleh MUI. Tindakan tersebut membawa mudarat bagi kehidupan dan kesehatan. “Menjaga lingkungan itu kewajiban dan berpahala, sementara mencemarkan lingkungan adalah haram dan berdosa. Ini harus menjadi kesadaran kolektif,” tambahnya.

Pendekatan keagamaan, menurut Hazuarli, diharapkan dapat memperkuat gerakan nasional dalam pengelolaan sampah, terutama melalui literasi di masjid dan kegiatan dakwah yang mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.

Insight Praktis untuk Masyarakat

Ada beberapa langkah yang bisa kita ambil untuk ikut berkontribusi dalam mengatasi krisis ini. Pertama, mari kita mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mungkin kamu bisa membawa tas belanja sendiri saat berbelanja. Kedua, penting untuk membuang sampah pada tempatnya dan terlibat dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan sekitar. Terakhir, kita juga bisa mendukung program-program yang berfokus pada pelestarian lingkungan di komunitas kita.

Kesimpulan

Menghadapi krisis lingkungan yang kompleks seperti yang dijelaskan oleh Menteri Hanif Faisol Nurofiq bukanlah tugas yang mudah. Namun, dengan kesadaran dan kolaborasi dari semua pihak, kita bisa mulai mengambil langkah-langkah kecil yang berdampak besar. Mari kita jaga lingkungan kita, bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Melalui upaya bersama, Indonesia bisa menghadapi dan mengatasi krisis ini dengan lebih baik.

Related Articles

Back to top button